About Me

My photo
Watampone, Sulawesi Selatan, Indonesia
Blog for the al-Ikhlas Islamic Boarding School Community

Monday, November 2, 2009

Human Communication



Present by Bustan Kadir


The three ways that human communicate with each other are speech, writing, and gestures. Speech is arbitrary and segmentable. In human language, sounds are strung together to form meaning-bearing units. And these units are strung together to form sentences. This stringing together is accomplished according to a system of rules called grammar.

Writng systems are three basic types: Logographic, syllabic and alphabetic. In a logographic system, each symbol represents a word; in a syllabic system, each symbol represents a syllable; and in a alphabetic system, each symbol represents a sound.

The term gesture may include all forms of human communication that are neither speech nor writing. This include the subject matter of kinesics, paralanguage and proxemics and many other communications systems like Mazatecan whistling. Afican drumming, Indian sign language and sign language of the deaf.



Sources: L Ben Crane, Edward Yeager, Randal L Whitman: An Introduction To Linguistics (Toronto: Little Brown and Company) p.n. 26

SOME EXCELLENT TRICKS IN DELIVERING ENGLISH SPEECH



By Irfan Arifien

Before speech:

1. Choose the topic in which you are interested in and know your material.

“If you are not familiar with your material or uncomfortable with it, your nervousness will increase. Practice your speech and revise it if necessary.”

2. Build up your self confidence and realize that people want you to succeed.

“Audiences want you to be interesting, stimulating, informative, and entertaining. They do not want you to fail.”

3. Make an outline of information that you are going to deliver

4. Check up your English skill (pronunciations, grammar, tone etc)

5. Prepare your stamina

While speech:

1. Lose your burden and forget your problem

2. Control your emotion

3. Retain eye contact with the audience

4. Assure your audience and not only to tell them

5. Maximize the use of your verbal and non-verbal communication

6. Concentrate on the massage – not medium. Focus your attention away from your own anxieties, and outwardly toward your massage and your audience. Your nervousness will dissipate.

7. Turn nervousness into positive energy. Harness your nervous energy and transform it into vitality and enthusiasm.

After speech:

1. Check up your audience’s response or interest

2. Evaluate what you have just delivered

3. Gain experience. Experience builds confidence, which is the key of effective speaking

Source: Drs. H. Abd. Muis Said, M.Ed TESOL, M. Saleh Syamsuri,S.Ag, M.Pd.I, Jainur Fauji : Pencerahan Imani dan Keterampilan Hidup (PIKIH)-Innovative English and Arabic Camp

Friday, October 23, 2009

Gender dalam Al-Qur’an?

Menurut D.R. Nasaruddin Umar dalam "Jurnal Pemikiran Islam tentang Pemberdayaan Perempuan" (2000) ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kesetaraan gender ada di dalam Qur’an, yakni:

a. Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Sebagai Hamba
Menurut Q.S. al-Zariyat (51:56), (ditulis alqurannya dalam buku argumen kesetaraan gender hal 248) Dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam Qur’an biasa diistilahkan sebagai orang-orang yang bertaqwa (mutaqqun), dan untuk mencapai derajat mutaqqun ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Hujurat (49:13)

b. Perempuan dan Laki-laki sebagai Khalifah di Bumi
Kapasitas manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al’ard) ditegaskan dalam Q.S. al-An’am(6:165), dan dalam Q.S. al-Baqarah (2:30) Dalam kedua ayat tersebut, kata ‘khalifah" tidak menunjuk pada salah satu jenis kelamin tertentu, artinya, baik perempuan maupun laki-laki mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di bumi.

c. Perempuan dan Laki-laki Menerima Perjanjian Awal dengan Tuhan
Perempuan dan laki-laki sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian awal dengan Tuhan, seperti dalam Q.S. al A’raf (7:172) yakni ikrar akan keberadaan Tuhan yang disaksikan oleh para malaikat. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Qur’an juga menegaskan bahwa Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaan jenis kelamin. (Q.S. al-Isra’/17:70)

d. Adam dan Hawa Terlibat secara Aktif Dalam Drama Kosmis
Semua ayat yang menceritakan tentang drama kosmis, yakni cerita tentang keadaan Adam dan Hawa di surga sampai keluar ke bumi, selalu menekankan keterlibatan keduanya secara aktif, dengan penggunaan kata ganti untuk dua orang (huma), yakni kata ganti untuk Adam dan Hawa, yang terlihat dalam beberapa kasus berikut:

  • Keduanya diciptakan di surga dan memanfaatkan fasilitas surga (Q.S.al-Baqarah/2:35)
  • Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (Q.S.al-A’raf/7:20)
  • Sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan (Q.S.al A’raf/7:23)
  • Setelah di bumi keduanya mengembangkanketurunan dan saling melengkapi dan saling membutuhkan (Q.S.al Baqarah/2:187)

e. Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Berpotensi Meraih Prestasi
Peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara perempuan dan laki-laki ditegaskan secara khusus dalam 3 (tiga) ayat, yakni: Q.S. Ali Imran /3:195; Q.S.an-Nisa/4:124; Q.S.an-Nahl/16:97. Ketiganya mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja.

Saturday, August 29, 2009

Recharging Energi Spiritual Refleksi Ramadhan


Ditulis oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA

Senin, 01 September 2008 11:55

Puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan hubungan seks. Yang lebih penting, puasa sebagai proses reinstalling nilai-nilai luhur (fitrah) yang mungkin selama ini terjangkiti virus materialisme yang akut. Puasa berfungsi sebagai recharging energi feminin dan kelembutan ke dalam jiwa kita. Puasa juga berfungsi sebagai spiritual training untuk mencontoh sifat-sifat rububiyah Tuhan, sebagaimana diserukan dalam hadis, takhallaqu bi akhlaqillah (berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT). Alquran menyebutkan, huwa yuth'im wa la yuth'am (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) (QS 6: 14) dan lam takun lahu shahibah (Tuhan tidak memiliki pasangan) (QS 6: 101).

Bukankah dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum, dan berhubungan seks, sebaliknya kita diwajibkan berzakat fitrah, yaitu memberi makan orang yang butuh. Dengan berpuasa, kita berharap memperoleh memori spiritual baru yang bersih dari berbagai virus yang menghalangi nurani kita untuk menjalani kehidupan ini secara benar, sesuai dengan tuntunan Ilahi. Dengan menjalani ibadah puasa, kita berharap mencapai kualitas insan kamil (manusia paripurna), kualitas spiritual yang paling didambakan oleh para pencari Tuhan (salik). Insan kamil sesungguhnya tidak lain adalah internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri kita sebagaimana dicontohkan oleh teladan kita, Rasulullah SAW.

Bulan puasa disebut juga bulan Ramadhan (secara harfiyah berarti menghanguskan, menghancurkan). Setelah 11 bulan kita terasing di dalam kehidupan yang kering dan penuh dengan suasana pertarungan (power struggle), dalam bulan Ramadhan kita diajak untuk kembali ke kampong halaman rohani kita yang sejuk dan penuh dengan suasana lembut (nurturing). Bulan Ramadhan ibarat oasis di tengah padang pasir, ia memberikan kepuasan kepada kafilah yang sedang berlalu.

Bulan Ramadhan adalah manifestasi dari Rahmaniyah dan rahimiyah Tuhan. Allah SWT menggambarkan diri-Nya di dalam dua kualitas, yaitu kualitas kejantanan (jalaliyyah /struggling) melalui sifat-sifat-Nya yang lebih menonjol sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang daripada Tuhan Yang Maha Pemurka dan Maha Pendendam. Seolah-olah, Allah SWT memperkenalkan diri-Nya tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dicintai. Seorang yang mendekati Tuhan lewat pintu maskulin akan mengesankan Tuhan bersifat transenden, jauh, berserah diri, struggling, dan menakutkan. Di sisi lain, seseorang yang mendekati Tuhan lewat pintu feminin akan mengesankan Tuhan bersifat imanen, dekat, dominan,struggling, dan lebih tepat dicintai daripada ditakuti.

Di dalam bulan suci Ramadhan, Tuhan lebih terasa sebagai The Feminine God daripada TheMasculine God. Menurut para sufi, jalur tercepat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Tuhan ialah jalur yang pertama. Bahkan, Syekh Muhyiddin ibn 'Arabi pernah mengatakan kepada muridnya, ''Jika kalian ingin memotong jalan menuju Tuhan, terlebih dahulu kalian harus menjadi 'perempuan'.'' Menurutnya, unsur kelelakian merepresentasikan sifat Aljalal Tuhan, sedangkan unsur keperempuanan merepresentasikan sifat Aljamal Tuhan. Dalam bulan suci Ramadhan, yang juga disebut bulan cinta (Syahr Alhubb), Tuhan lebih banyak memperkenalkan dirinya sebagai The Feminine God Sebagai orang yang berpuasa, selayaknya tidak saja menaruh kasih dan perhatian kepada sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Idealnya, orang yang berpuasa sudah dapat menciptakan kualitas ukhuwwah basyariyyah, ukhuwah Islamiyyah, dan ukhu wah makhluqiyyah sebagai sesama ciptaan Tuhan. Kualitas muttaqin yang dijanjikan Tuhan bagi mereka yang menjalankan puasa secara ikhlas dan baik bukanlah janji sederhana. Kualitas muttaqin merupakan dambaan setiap orang. Selain akan dilihat sebagai rahmat oleh sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan, yang bersangkutan juga akan mengalami pengalaman spiritual yang mengasyikkan. Seorang yang memiliki takwa akan merasakan kelapangan dada, meniru sifat Tuhan yang Mahalapang (Alwasi').

Hujatan dan celaan atau pujian dan sanjungan, apa pun yang ditujukan orang kepadanya, tidak lagi akan ditanggapi dengan emosi yang berlebihan karena dadanya sedemikian lapang hingga mampu menampung semuanya. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki unsur ketakwaan, selalu diwarnai suasana batin yang fluktuatif. Jika dihujat, dadanya terasa sumpek dan jika disanjung, lehernya akan bertambah panjang. Orang yang bertakwa sulit dikenali kapan ia ditimpa musibah dan kapan ia dikaruniai rezeki. Ia memberikan respons yang biasa untuk semua yang datang kepadanya. Bagi orang yang bertakwa, musibah dan bala serta berbagai bentuk penderitaan dan kekecewaan lainnya dianggap sebagai 'surat cinta' Tuhan. Mungkin, selama ini, Tuhan ingin menyapanya, tetapi ia tidak sensitif karena ditutupi oleh berbagai kecukupan hidup. Lalu, Tuhan mengirim trigger berupa musibah atau cobaan untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Tidak sedikit orang yang ditimpa musibah dan bencana kemudian menjadi lebih dekat dengan Tuhannya, jauh lebih dekat ketimbang sebelum musibah dan bencana itu datang. Bahkan, bagi orang yang bertakwa, dosa dan maksiat pun dijadikan pintu masuk untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan penyesalan yang mendalam, ia berikrar untuk menjadikan dosa dan maksiat yang baru saja dilakukannya sebagai dosa terakhirnya. Ia betul-betul menyesali serta meratapi dosa dan maksiat itu sehingga membuat dirinya lebih pasrah kepada Tuhan. Kalau Tuhan akan memasukkannya ke dalam neraka, ia pasrah karena memang merasa pantas masuk ke dalam neraka dengan dosanya itu. Respons para pendosa seperti ini mengundang pengampunan dan kasih sayang Tuhan terhadapnya sebagaimana hadis Nabi yang dikutip Al Gazali di dalam Ihya 'Ulum al Din, ''Tuhan lebih senang mendengarkan jeritan tobatnya para pendosa ketimbang gemuruh tasbihnya para ulama.''

Orang yang bertakwa akan menyadari Allah SWT sebagai Tuhan alam semesta (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos). Manusia sebagai makhluk mikrokosmos merupakan bagian yang teramat kecil di antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi (khalaif al ardl), manusia tidak sepantasnya mengklaim Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan manusia daripada Tuhan makrokosmos. Karena, pemahaman yang demikian dapat memicu egosentrisme manusia untuk menaklukkan, menguasai, dan mengeksploitasi alam raya sampai di luar ambang daya dukungnya; bukannya bersahabat dan berdamai sebagai sesama makhluk dan hamba Tuhan. Tuhan tidak hanya memerhatikan kepentingan manusia sebagaimana pemahaman yang keliru sebagian orang terhadap konsep penundukan alam raya (taskhir) pada manusia. Seolah-olah, konsep taskhir adalah 'SIM' untuk menaklukkan alam semesta. Padahal, konsep taskhir sebenarnya bertujuan untuk merealisasikan eksistensi asal segala sesuatu itu sebagai the feminine nature yang mengacu kepada keseimbangan kosmis dan ekosistem. The feminine nature sesungguhnya tidak lain adalah manifestasi sifat-sifat rububiyah Tuhan. Rububiyah seakar kata dengan kata rab yang secara harfiah berarti memelihara, mengasuh, dan melindungi, seperti kata Tuhan, '' Alhamdulillahi rabbil 'alamin ''(segala puji bagi Allah, pemelihara alam semesta). Orang tua yang begitu tulus mengandung, melahirkan, memelihara, dan mengasuh anaknya memiliki sifat-sifat inti rububiyah sebagaimana firman-Nya dalam QS Al Isra' (17): 24, ''Rabbi irham huma kama rabbayani shagira'' (wahai Tuhanku, kasihanilah keduanya sebagaimana keduanya telah memelihara aku di waktu kecil).

Manusia sebagai khalifah selayaknya menjalankan fungsi kekhalifahannya senantiasa mengidentifikasikan diri dengan The Feminine God. Jika demikian, sudah barang tentu tidak akan pernah terjadi disrupsi lingkungan alam dan lingkungan sosial. Sebaliknya, yang akan terjadi adalah kedamaian kosmopolit (rahma tan li al 'alamin) di tingkat makrokosmos dan negeri tenteram di bawah lindungan Tuhan (baldah thayyibah wa Rab Al Gafur) di tingkat mikrokosmos.

Hanya mereka yang berpuasa yang dapat menjelaskan kaitan segitiga antara Tuhan, mikrokosmos, dan makrokosmos. Mereka akan merasakan bagaimana peranan puasa dalammenjalankan misi dan kapasitasnya sebagai khalifah dan representatif Tuhan di bumi. Orang-orang yang demikian inilah sesungguhnya yang menjalankan konsep ketauhidan yang paling sejati. Mereka menganggap dirinya sebagai makhluk mikrokosmos yang mempunyai konsep kesatuan dengan makhluk makrokosmos. Di tingkat kemanusiaan, mereka dengan sendirinya berupaya menyingkirkan berbagai kesenjangan sosial yang ada di dalam masyarakat dalam upaya mewujudkan keutuhan sesama makhluk mikrokosmos. Konsep integralistik secara internal dan secara eksternal ini merupakan perwujudan perilaku insan kamil dan inilah perspektif Islam tentang keberadaan manusia. Semoga Ramadhan kita kali ini membuat kita lebih feminin.


Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 1 September 2008.

Penulis adalah Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Ikhlas Ujung Bone

Introduction


Blog ini kami buat sebagai tempat berbagi ilmu di kalangan civitas Pondok Pesantren al-Ikhlas. Dengan penuh rasa bangga kami harapkan teman-teman dapat menyalurkan pemikiran untuk mengisi blog ini. Tiada lain tujuan dibuatnya blog ini agar dapat meningkatkan wawasan serta pemahaman kita bersama seiring dengan meningkatnya ilmu pendidikan dan teknologi yang kian menuntut.

Kami yakini bahwa dengan terbentuknya blog ini akan menjadi wadah serta ajang silaturahmi bagi kita semua baik para alumni, ustadz-ustadzah serta adik-adik yang masih dalam proses belajar di Pondok Pesantren al-Ikhlas Ujung Bone.

Note : Tulisan teman-teman dapat dikirim ke email kami (aibs_community@yahoo.co.id)